Entry: perempuan yang membunuh malam Tuesday, March 13, 2007



Telah meninggal malam.

 Jasadnya dikebumikan dengan upacara yang layak.

Semoga kita yang ditinggal tidak kehilangan

 atau mengalami kekacauan yang berlebihan

 

            Begitu isi obituari yang kubaca pada suratkabar pagi ini. Aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Memang malam kemarin tidurku terasa aneh. Seperti bukan tidur di malam hari.

            Di halaman depan ada berita tentang kematian sang malam. Katanya malam dibunuh oleh seorang perempuan. Dengan apa malam dibunuh masih misteri bahkan bagi polisi karena sang perempuan masih belum mau bicara. Di situ juga dituliskan bahwa si perempuan akan dihukum mati karena telah menciptakan kekacauan. Karena malam tidak ada lagi, orang-orang bingung dengan 24 jam terang yang mereka punya. Dalam foto yang dipasang di sebelah berita, perempuan itu terlihat lelah sekaligus lega. Senyumnya patah, aneh. Legam rambutnya sama awut-awutannya dengan cardigan yang dipakainya. Matanya yang besar menyirobok mataku dan sejenak kemudian, aku terhisap dalam cerita yang terangkum di otaknya:

 

            “Aku membunuhnya karena ia tak lagi memberiku kantuk. Ia terus berbicara dan mengajak bicara. Jika aku tidak menurutinya, ia akan membuatku menangis. Lalu aku mengadu pada ibuku. Katanya pejamkan saja matamu dan matikan semua lampu, pasti kantuk akan diberi juga. Aku melakukannya. Bahkan telah kututupi mukaku dengan selimut dan minum segelas susu hangat sebelumnya. Alih-alih malah air mataku mengalir deras tak tentu. Bermalam-malam aku tersedu dan malam terus bergulir lambat. Meskipun aku memohon dan terus memohon, ia tak mau memberiku kantuk. Lantas, kuajak ia dalam perundingan. Ia boleh lalai memberiku kantuk, tetapi ia harus segera berlalu. Sehingga malamku tak lagi sendu. Menggugu, mencari pegangan yang hilang. Ambles dalam turunan yang tajam dan mengerikan. Maka tak perlu lagi kurayu-rayu leherku untuk selalu mendongak dalam air yang dalam lagi deras. Tetapi, sang malam, oh, terlampau kejam. Ia iyakan semuanya. Bahkan dengan jabat tangan yang mantap dan pasti. Sungguh ia berjalan lambat betul. Berlama-lama dalam singgasananya, bahkan ketika bintang, biduk, dan bulan telah lelah ia tetap di sana. Mungkin sambil tergelak melihat aku meratapi kelamnya. Oh, sungguh-sungguh kejamnya sang malam. Bukan sehari-dua ia begitu. Tujuh bulan penuh tanpa ragu. Ia melakukannya dengan sengaja. Mungkin menjadikan aku yang tersengut-sengut sebagai hiburan pribadinya. Maka, pada suatu pagi ketika akhirnya ia lengser, aku menyusun rencana untuk membunuhnya. Supaya ia tak pernah bisa mengganggu ‘ku lagi. Begitu serius ‘ku rancang rencanaku, sehingga terlewatlah waktu mandi, makan pagi, makan siang, dan waktu minum teh sore. Hampir-hampir aku terlewat malam. Kalau aku terlewat malam, percumalah aku menyusun rencana pembunuhannya. Ha! Ketika petang mendesir, aku terkikik tak tahan. Bayangan bahwa aku akan menikmati istirahatku tidak lagi dalam kelam dan bayang-bayang yang mengerikan, tanpa seguk-seguk yang membuat sesak dada begitu menggembirakan hingga ibuku bertanya mengapa aku terkikik-kikik dibalik mataku yang berkantung gelap. Lalu begitulah, malam itu kubunuh sang malam. Ah, aku hanya ingin menyudahi isak. Bukankah sudah saatnya jika berkaca kulihat senyum yang segar dan berseri? Bukan wajah yang melayu bekas disandera malam.

 

Dan woooosh! kembalilah aku pada meja makanku. Memegang suratkabar dan gemetar menatap foto perempuan si pembunuh malam. Aku harus segera ke kantor polisi dan mengatakan semuanya. Perempuan itu tidak bersalah. Perempuan itu hanya ingin berhenti menangis.

            ‘Ku sambar kunci mobil sambil berlari. Istriku yang berteriak-teriak dibelakang tak kuhiraukan. Aku harus segera ke kantor polisi!

 

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments